Pajak Barang Impor, Pemilik Tas Mewah – iPhone ‘Dipalak’ di Bandara

Sejak awal pekan ini, masyarakat Indonesia khususnya yang gemar membeli tas-tas mewah dan gadget mahal di luar negeri tengah kritis. Hal itu karena Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementrian Keuangan (Kemenkeu) tengah mengetatkan aturan pajak barang impor. Perkembangan perekonomian dan teknologi masyakarat Indonesia lah yang jadi penyebabnya.

 

Menjadi buah bibir saat video seorang perempuan merasa keberatan dengan pajak tas mewah miliknya yang dibeli di luar negeri lantaran mencapai puluhan juta rupiah, DJBC Kemenkeu tampak menanggapi dengan tenang. Menurut mereka, pajak barang impor sudah diatur dalam PMK Nomor 188 Tahun 2010 dan dibebankan pada semua pemilik barang mewah entah digunakan untuk kepentingan pribadi atau perdagangan.

 

Dalam aturan poker online  yang sudah berlaku sejak tujuh tahun terakhir itu, ditetapkan nilai untuk perorangan mencapai 250 dolar US dan keluarga sebesar 1.000 dolar US. Di mana jika kamu atau keluargamu membeli/membawa barang di luar negeri dengan harga lebih dari apa yang ditetapkan, maka harus membayar pajak.Tak hanya di Indonesia, pajak barang impor ini rupanya sudah diterapkan di dunia internasional.

 

Beli iPhone X dan Tas Mewah Harus Bayar Pajak

 

Sejatinya pengenaan pajak bea masuk dan pajak impor sudah ditetapkan sesuai dengan asas perpajakan di Indonesia yaitu terciptanya keadilan. Tak heran kalau kamu membeli iPhone X di gerai-gerai Indonesia, harganya sudah pasti melambung mencapai puluhan juta rupiah. Harga yang dipatok lebih mahal di Tanah Air ini rupanya sudah termasuk beban pajak impor.

 

Sama seperti iPhone X, tas-tas mewah keluaran brand luar negeri juga tak luput dari pajak. Meskipun kamu mendapat harga murah di luar negeri, tapi saat tas itu masuk ke bandara Indonesia, akan dikenai pajak. Contoh saja kalau tas itu bernilai 10.000 dolar Amerika, maka tarif untuk bea masuk sebesar 17,5% (Rp 22,6 juta). Lalu tarif PPN 10% (Rp 15,1 juta), tarif PPH 20% dan tarif PPNBM 0% sehingga total yang harus dibayarkan adalah Rp 68,2 juta, seperti dilansir Detik. Sungguh luar biasa!

 

Pajak Barang Mewah Masuk Kas Negara

 

Dengan semakin sadarnya masyarakat akan pajak, DJBC Kemenkeu pun berharap kalau seluruh masyarakat akan memiliki NPWP. Disinggung lari ke manakan uang-uang barang impor nan mewah itu, rupanya setiap pembayaran atau pelunasan pajak yang dibebankan kepada masyarakat Indonesia di bandara bakal langsung masuk ke kas negara.

 

Untuk memberikan bukti kepada semua orang, pembayaran pajak yang sudah dilakukan di setiap gerbang masuk di bandara melalui layanan pembayaran non tunai (EDC). Seolah tak ingin membebankan masyarakat, pajak barang impor yang ditetapkan pun juga memberikan penawaran diskon. Di mana kalau kamu membeli barang seharga 255 dolar US, maka yang bakal dikenakan pajak hanyalah kelebihannya alias sebesar lima dolar US saja.

 

Meskipun memicu pro-kontra di kalangan masyarakat, terutama mereka yang hobi membeli barang mewah, DJBC Kemenkeu pun tetap melakukan sosialisasi dan menanggapi berbagai keluha dengan tenang. Karena pada dasarnya, mereka yang mampu membeli barang mewah dengan nilai fantastis mencapai ratusan juta rupiah dan merasakan nikmatnya jalan-jalan di luar negeri, tentunya juga sudah memiliki kemampuan untuk membayar pajak tanpa  harus merasa terbebani.

 

Jadi tinggal kamu mau memilih, masih ingin membeli barang-barang mahal di luar negeri atau mencoba mencintai produk asli Tanah Air?