Makna Tradisi Bleketepe Dan Midodareni Pada Pernikahan Adat Jawa

Beberapa hari yang lalu media di tanah air cukup ramai menayangkan pernikahan putri satu-satunya RI 1 yang digelar dengan adat Jawa lengkap termasuk beberapa prosesi adat yang dilakukan pra akad nikah pasangan Kahiyang Ayu dan Bobby Afif Nasution. Tradisi yang dimaksud adalah bleketepe dan midodareni yang tentunya cukup unik bagi mereka yang belum pernah menyaksikan prosesi demikian. Apalagi demi alasan kepraktisan di jaman sekarang ini sudah jarang pasangan yang melakukan tradisi tersebut bahkan yang berasal dari suku Jawa. Berikut informasinya untuk Anda.

 

Tradisi pemasangan bleketepe dalam adat Jawa

Bleketepe sendiri berwujud daun kelapa yang masih berwarna hijau atau muda dan dipasang di atap mengelilingi area pernikahan. Nama bleketepe berasal dari bale katapi yang terjemahannya adalah sebuah tempat untuk memilah kotoran untuk kemudian disingkirkan.  Pemasangan bleketepe ini harus dilakukan oleh ayah mempelai wanita.

 

Ada dua makna pemasangan bleketepe ini, yaitu sebagai penyucian lokasi dan juga bermakna penolak bala atau bencana. Bleketepe menurut tradisi Jawa adalah symbol harapan agar upacara pernikahan beralan lancar dan terhindar dari bahaya dan hal-hal yang jahat. Dahulu, rumah-rumah milik masyarakat Jawa umum dipasang bleketepe yang menandakan si empunya akan mengadakan hajatan besar.

 

Selain daun kelapa bleketepe, umumnya dipasang pula janur serta berbagai buah-buahan lokal hasil pertanian masyarakat setempat pada sudut gerbang masuk ke rumah calon pengantin wanita. Ini juga merupakan symbol pengharapan agar pernikahan tersebut ke depannya akan membawa kemakmuran. Hasil perkebunan yang umum dipajang adalah buah kelapa dan beberapa tandan pisang. Ritual berikutnya yang mengikuti pemasangan bleketepe ini adalah siraman pengantin yang tak hanya dilakukan oleh calon pengantin wanita tetapi juga pria di kediaman masing-masing.

 

Tradisi midodareni

Berikutnya adalah prosesi adat midodareni yang dilaksanakan malam hari menjelang diadakannya akad nikah di keesokan harinya. Menurut dosen Kebudayaan Jawa Universitas Indonesia, Prapto Yuwono, midodareni itu berasal dari istilah midodari yang bermakna bidadari, sehingga pada malam midodaren pengantin wanita dirias dan dipersiapkan menjadi bidadari menjelang pernikahannya.

 

Pada tradisi tersebut keluarga pengantin wanita yang menggelar doa bersama agar sikap, perilaku, hingga penampilan fisik mempelai wanita seolah menyerupai bidadari. Sementara bagi calon pengantin wanita sendiri diharuskan mengerjakan laku prihatin dimana jiwanya benar-benar berharap dan berdoa demi keselamatan dirinya dan calon pasangannya.

 

Di sini calon pengantin wanita tak boleh makan dan minum berlebihan serta tak diperbolehkan banyak keluar rumah melainkan berdiam di dalam kamar dan berkontemplasi. Meskipun begitu calon pengantin masih diperkenankan menemui tamu yang berkunjung dan bersilaturahmi. Konon saat bertemu dengan para tamu inilah aura pengantin akan terlihat semakin bersinar apalagi bila doa yang dipanjatkan oleh kedua orangtua benar-benar dilakukan dengan tulus dan ikhlas. Tak hanya terlihat semakin cantik, calon pengantin wanita pun akan menunjukkan kesiapan mental dan spiritualnya dengan mantap untuk menjalani proses lanjutan dari kehidupannya yaitu berumahtangga.

 

Pada malam itu keluarga calon pengantin pria juga akan bersilaturahmi ke rumah calon mempelai wanita sambil membawa beragam hantaran. Hadiah tersebut dahulu umumnya adalah benda-benda hasil bumi serta harta kekayaan seperti makanan, pakaian, serta emas. Di sini kedua calon pengantin bandar poker belum boleh bertemu karena masih harus menjalani tradisi pingitan. Saat prosesi usai, keluarga mempelai pria tak boleh tinggal terlalu lama karena kedua belah pihak keluarga harus segera beristirahat dan bersiap untuk menjalani upacara akad nikah keesokan harinya. Berniat untuk mencoba?

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *