Pelaku Pencabulan Santri Pondok Pesantren Aceh Utara Akhirnya Tertangkap

Pelecehan seksual adalah hal yang sudah sering sekali terjadi, baik di dalam sebuah organisasi sosial, dalam dunia pendidikan, atau bahkan dalam lingkungan keluarga. Setelah beberapa waktu lalu heboh tentang kasus pelecehan seksual yang dilakukan banyak pimpinan gereja kalotik kepada anak-anak dibawah umur di beberapa tempat di dunia, beberapa waktu lalu juga sudah ada kasus pelecehan seksual tepatnya pencabulan yang dilakukan oleh salah seorang pimpinan pondok kepada santri-santrinya di salah satu pesantren di daerah Banda Aceh.

Kasus Pelecehan Seksual Oleh Pemimpin Pesantren

Pada hari Rabu, tepatnya pada tanggal 27 September 2017 Kasat Reskrim Polres Aceh Utara Iptu Resky Kholiddiansyah mengatakan pada sebuah wawancara yang dilakukan salah satu media berita online Indonesia bahwa Personel Setreskrim Polres Aceh Utara telah berhasil mengamankan seorang pria berinisial MI (50 tahun) yang telah dilaporkan atas kasus dugaan pencabulan terhadap santrinya beberapa waktu lalu. Pria berumur separuh abad tersebut dilaporkan oleh keluarga korban pelecehan seksual lantaran keluarga korban tidak terima dengan perbuatan yang dilakukan oleh pelaku.

Yang lebih menghebohkan lagi, pria berinisial MI yang sudah dinyatakan sebagai tersangka dan sudah berhasil diamankan  pihak polisi tersebut di atas merupakan seorang pemimpin dayah atau pesantren tempat santri-santri korban pelecehan seksual tersebut belajar. Pimpinan pondok pesantren yang tepatnya terletak di daerah Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara, Aceh  itu ditangkap lantaran orang tua korban memberanikan diri untuk melaporkan kasus tersebut ke polisi dan sebelumnya sudah sempat menjadi buronan selama dua pekan setelah akhirnya bisa ditangkap.

Proses Penangkapan MI si Pelaku Pelecehan Seksual

Proses penangkapannya juga memerlukan kerja sama antara polisi yang berkoordinasi dengan pihak kelurga pelaku. Tapi untungnya  proses penangkapan Bandar Togel online tersebut berjalan lancar karena pelaku ditangkap secara sukarela dengan cara menyerahkan diri dengan dijemput oleh petugas kepolisian di daerah kawasan Idi, Aceh Utara.

Iptu Resky juga menjelaskan bahwa kasus yang dialami oleh pelaku MI beragam. Pasalnya selain sebagai pelaku pelecehan seksual terhadap beberapa santri pondok pesantren, dia juga dijerat kasus narkoba. Hal tersebut diketahui setelah beberapa waktu lalu saat pelaku dilaporkan oleh keluarga korban dan kabur dari rumahnya. Kemudian petugas menggeledah rumahnya dan ditemukan sejumlah ganja di dalam rumah.

Selain itu diketahui bahwa korban pelecehan seksual dari MI bukan hanya satu orang melainkan ada lebih dari tiga orang. Namun korban maupun keluarganya tidak melaporkan kasus tersebut lantaran alasan malu dan aib. Hal unik lain juga terjadi lantaran beberapa waktu lalu yaitu sekitar 2 minggu lalu korban masih menjadi buronan dan tidak kunjung ditangkap oleh pihak kepolisian. Ternyata ada orang tidak dikenal yang kemudian membakar rumah pelaku. Dari kejadian itu 2 kamar dalam rumah pelaku hangus terbakar.

Meskipun pelaku sempat kabur dan buron selama 2 minggu tapi polisi terus berusaha melacak keberadaan pelaku dan berkoordinasi dengan keluarga korban agar membujuk pelaku supaya mau menyerahkan diri. Dan akhirnya pelakupun mau menyerahkan diri pada hari Rabu 27 September 2017 lalu tepatnya sekitar pukul 2 siang WIB dijemput oleh petugas yang bernama Aipda M Yasif di Idi, Aceh Timur. Dari daerah tersebut kemudian pelaku dibawa ke Mapolres Aceh Utara guna dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dan pengembangan terkait kasus-kasusnya tersebut.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *